Rabu, 28 April 2010

Air Mata Bintang


Sinopsis : Novel Air Mata Bintang
Bintang adalah seorang mahasiswa Fisip di sebuah universitas di Bandung yang besar dari keluarga yang sangat kental nuansa beragamanya. Namun dalam perjalan hidupnya menemukan satu demi satu permasalahan yang mulai menimbulkan keraguan akan kebenaran imannya selama ini.
Pertemanannya dengan seorang mahasiswa ateis, bernama Ervan, seorang  yang meski seorang ateis namun teguh memegang nilai-nilai luhur etika, membuatnya semakin meragukan kebenaran Islam yang digenggamnya sejak lahir. Belum lagi kekecewaannya menyaksikan penyelewengan yang dilakukan ustadz rahman seorang mubaligh pengasuh rumah panti asuhan.
Kekecewaannya semakin menjadi melihat wajah islam yang tampil dihadapannya adalah wajah yang penuh dengan intrik, simbolik, bahkan pragmatis.  Keraguannya semakin menjadi melihat perdebatan sengit yang terjadi antara mahasiswa pro Islam dengan Mahasiswa pro ateis. Namun diapun menemukan keunikan akan hubungan cinta Ervan dengan seorang mahasiswi berjilbab, aktivis kerohanian kampus bernama Alina.
Dalam sebuah aksi Demo mahasiswa, Bintang harus kehilangan sosok Ervan yang menghilang entah kemana, dan suatu saat lewat sepucuk surat dia mengetahui bahwa sosok Ervan sang Ateis telah berubah total menjadi seorang sufi.
Adapun kisah cintanya sendiri harus berakhir tragis karena gadis yang dilandihnya sebagai “bidadari mahameru” ternyata adalah keponakan Ustadz Rahman yang kini dibencinya. Kegagalan cintanya berakibat buruk juga terhadap keharmonisan keluarganya. Ayah dan Ibunya teramat kecewa dengan kejujuran bintang yang menyatakan membatalkan khitbah karena dirinya kini telah menjadi seorang apatis muslim.
Kekecewaan akan hidup dan Tuhan, semakin menjadi ketika didapatinya Mang Abas, seorang petani kangkung yang dikaguminya karena memiliki kesabaran yang mengagumkan dalam menghadapi kesulitan hidup, mati gantung diri di sebuah pohon nangka di pinggir kebun kangkung yang disewanya. Sesuatu yang amat mengejutkannya.
Keterkejutannya bertambah ketika didapati ayahnya telah tertidur di pusara tanah merah bukit Cimaragas, desanya. Disusul kematian ibunya di samping pusara ayahnya tepat dipangkuannya.
Di tengah keputusasaan yang memuncak dia mendapatkan sebuah hikmah. Bahwa ternyata apa yang selama ini dicarinya, ternyata tak jauh dari dirinya sendiri, yakni berada di sudut kelopak matanya, air mata. Air mata bintang.

Penasaran pengen dapet novelnya...gratis kok...aku cuma pengen review dari yang mo baca ...send aja ke emailku ...(kirana1970@gmail.com)...insya Allah aku kirim...gratis...cuma pengen berbagi aja.